Penyesalan yang terlambat
Oleh
Khairunnisya IX-5
Smpn 179
Jakarta
2013-2014
Judul : Penyesalan yang terlambat
Data
Alur :
- Pembukaan :
Kejadian ini terjadi saat aku
masih kelas 7. Tepatnya hari jum’at. Saat itu ada pelajaran IPA. Aku dan
teman-temanku sedang remedial. Seperti biasa, duduknya selalu dipindah tempat
oleh guruku (Bu Emni). Kejamnya, aku duduk sendirian dan bangku paling depan.
Sedangkan teman sebangku ku duduk di bangku paling belakang.
- Permasalahan :
Kalau duduk disini, susah untuk
mencontek, pikirku. Terlebih lagi, aku belum belajar kemarin. Namun tetap saja
aku harus menghadapi remedial ini. Ya awalnya aku bisa menghadapi soal-soal
itu, namun semakin lama, soal semakin sulit. Aku bingung sekali saat itu. Apa
boleh buat, dari pada nilai ku jelek, aku pun mengeluarkan buku catatanku dari
kolong meja dan menaruhnya di bawah lembar jawaban ku, agar tidak ketauan.
Namun sialnya, Bu Emni selalu jalan kesana-kemari untuk mengawasi muridnya. Aku
jadi sulit untuk mencontek.
- Konflik :
Waktu remedial pun hampir habis. Apa lagi
teman-temanku sudah pada selesai. Aku semakin panik. Bagian essay sama sekali
belum kuiisi. Akhirnya aku nekat, dan cepat-cepat membuka buku untuk mencontek.
Dengan perasaan cemas dan was-was aku menyalin jawaban. Tanpa ku sadari, Bu
Emni menghampiriku . Cepat-cepat ku sembunyikan contekan yang sedang ku salin. Namun
terlambat, aku ketauan mencontek.
- Klimaks :
Bu Emni langsung mengambil lembar jawabanku,
dan akhirnya buku contekan itu pun terlihat dengan jelas karena tidak tertutup
lembar jawaban. Bu Emni langsung marah dan merobek-robek lembar jawabanku dan
membuangnya di depanku. Seketika aku menangis dan langsung berlari keluar
menuju toilet dekat masjid. Teman-teman yang melihatku tampak heran melihatku
mengapa aku menangis. Aku menangis tersedu-sedu di toilet.
- Peredaan :
Setelah puas menangis , aku
langsung menuju masjid untuk sholat ashar berjama’ah. Seusai sholat, aku
berdo’a meminta ampun kepada Allah akibat ulahku tadi. Dan lagi-lagi aku
menangis tersedu-sedu.
- Penutup :
Akhirnya temanku membujukku agar aku
tidak menangis lagi. Setelah lama kemudian tangisan ku pun reda. Aku sangat
menyesal atas kejadian itu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
*Ingat!! Di data alur tidak boleh memakai percakapan. Jadi hanya inti-inti dari cerpennya saja*
*Nah,
Selesai Membuat Data Alur, Kita bisa membuat cerpen. Tapi cerpennya harus sesuai Data
Alur ya. Oiya, Kalau di cerpen boleh kok pakai percakapan*
Penyesalan yang terlambat
Kejadian ini terjadi saat aku masih kelas 7. Tepatnya hari
jum’at. Saat itu ada pelajaran IPA. Aku dan teman-temanku sedang remedial.
Seperti biasa, duduknya selalu dipindah tempat oleh guruku (Bu Emni). Kejamnya,
aku duduk sendirian dan di bangku paling depan. Sedangkan teman sebangku ku
duduk di bangku paling belakang.
“Celaka aku! Kalau duduk disini sih,
susah untuk mencontek”, pikirku. Terlebih lagi, aku belum belajar kemarin. Namun tetap saja aku harus menghadapi
remedial ini. Ya awalnya aku bisa menghadapi soal-soal itu, namun semakin lama,
soal semakin sulit. Aku bingung sekali saat itu. Apa boleh buat, dari pada
nilai ku jelek, aku pun mengeluarkan buku catatanku dari kolong meja dan
menaruhnya di bawah lembar jawaban ku, agar tidak ketauan kalau aku ingin
menyontek. Namun sialnya, Bu Emni selalu jalan kesana-kemari untuk mengawasi
muridnya. Aku jadi sulit untuk mencontek.
Waktu remedial pun hampir habis. Apa lagi
teman-temanku sudah pada selesai. Aku semakin panik. Bagian essay sama sekali
belum kuiisi. Akhirnya aku nekat, dan cepat-cepat membuka buku untuk mencontek.
Dengan perasaan cemas dan was-was aku menyalin jawaban. Tanpa ku sadari, Bu
Emni menghampiriku . Cepat-cepat ku sembunyikan contekan yang sedang ku salin.
Bu Emni bertanya “kamu lama banget sih ngerjainnya? Udah nomor berapa? Coba ibu
liat!”
Bu Emni langsung mengambil lembar
jawabanku, dan akhirnya buku contekan itu pun terlihat dengan jelas karena
tidak tertutup lembar jawaban. Bu Emni langsung marah dan berkata “Oh, pantesan
kamu lama, ternyata kamu lagi nyontek ya? Udah deh, kamu gak usah remedial. Ibu
gak suka ya, kalo ada murid Ibu yang berbuat curang kayak gini”. Bu Emni pun
merobek-robek lembar jawabanku dan membuangnya di depanku. Seketika aku
menangis dan langsung berlari keluar, menuju toilet dekat masjid. Teman-teman
yang melihatku tampak heran melihatku mengapa aku menangis. Aku menangis
tersedu-sedu di toilet.
Setelah puas menangis , aku langsung menuju
masjid untuk sholat ashar berjama’ah. Seusai sholat, aku berdo’a meminta ampun
kepada Allah akibat ulahku tadi. Dan lagi-lagi aku menangis tersedu-sedu. Salah
satu temanku langsung bertanya “Nis? Kok nangis? Kenapa?”, aku hanya diam. Lalu
temanku yang lain menjawab “tadi dia kan nyontek, eh ketauan, terus lembar
jawabannya dirobek sama Bu Emni”
Akhirnya
temanku membujukku agar aku tidak menangis “Udah nis, gak usah nangis, ambil
hikmahnya aja, ini juga sebagai pelajaran yang berharga kan buat loe”. Setelah
lama kemudian tangisan ku pun reda. Aku sangat menyesal atas kejadian itu.
Namun, semua itu terlambat. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar