Sabtu, 11 Januari 2014

KD 8.2 Menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi (yang paling berkesan)





Penyesalan yang terlambat


   




Oleh Khairunnisya IX-5
Smpn 179 Jakarta
2013-2014
 
 

Judul           : Penyesalan yang terlambat
Data Alur     :

  • Pembukaan :

          Kejadian ini terjadi saat aku masih kelas 7. Tepatnya hari jum’at. Saat itu ada pelajaran IPA. Aku dan teman-temanku sedang remedial. Seperti biasa, duduknya selalu dipindah tempat oleh guruku (Bu Emni). Kejamnya, aku duduk sendirian dan bangku paling depan. Sedangkan teman sebangku ku duduk di bangku paling belakang.


  •  Permasalahan :

          Kalau duduk disini, susah untuk mencontek, pikirku. Terlebih lagi, aku belum belajar kemarin. Namun tetap saja aku harus menghadapi remedial ini. Ya awalnya aku bisa menghadapi soal-soal itu, namun semakin lama, soal semakin sulit. Aku bingung sekali saat itu. Apa boleh buat, dari pada nilai ku jelek, aku pun mengeluarkan buku catatanku dari kolong meja dan menaruhnya di bawah lembar jawaban ku, agar tidak ketauan. Namun sialnya, Bu Emni selalu jalan kesana-kemari untuk mengawasi muridnya. Aku jadi sulit untuk mencontek.


  •  Konflik   :

 Waktu remedial pun hampir habis. Apa lagi teman-temanku sudah pada selesai. Aku semakin panik. Bagian essay sama sekali belum kuiisi. Akhirnya aku nekat, dan cepat-cepat membuka buku untuk mencontek. Dengan perasaan cemas dan was-was aku menyalin jawaban. Tanpa ku sadari, Bu Emni menghampiriku . Cepat-cepat ku sembunyikan contekan yang sedang ku salin. Namun terlambat, aku ketauan mencontek.


  • Klimaks  :

         Bu Emni langsung mengambil lembar jawabanku, dan akhirnya buku contekan itu pun terlihat dengan jelas karena tidak tertutup lembar jawaban. Bu Emni langsung marah dan merobek-robek lembar jawabanku dan membuangnya di depanku. Seketika aku menangis dan langsung berlari keluar menuju toilet dekat masjid. Teman-teman yang melihatku tampak heran melihatku mengapa aku menangis. Aku menangis tersedu-sedu di toilet.

  • Peredaan  :

         Setelah puas menangis , aku langsung menuju masjid untuk sholat ashar berjama’ah. Seusai sholat, aku berdo’a meminta ampun kepada Allah akibat ulahku tadi. Dan lagi-lagi aku menangis tersedu-sedu.


  •  Penutup  :

         Akhirnya temanku membujukku agar aku tidak menangis lagi. Setelah lama kemudian tangisan ku pun reda. Aku sangat menyesal atas kejadian itu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.




*Ingat!! Di data alur tidak boleh memakai percakapan. Jadi hanya inti-inti dari cerpennya saja*
*Nah, Selesai Membuat Data Alur, Kita bisa membuat cerpen. Tapi cerpennya harus sesuai Data Alur ya. Oiya, Kalau di cerpen boleh kok pakai percakapan*


Penyesalan yang terlambat
        Kejadian ini terjadi saat aku masih kelas 7. Tepatnya hari jum’at. Saat itu ada pelajaran IPA. Aku dan teman-temanku sedang remedial. Seperti biasa, duduknya selalu dipindah tempat oleh guruku (Bu Emni). Kejamnya, aku duduk sendirian dan di bangku paling depan. Sedangkan teman sebangku ku duduk di bangku paling belakang.

         “Celaka aku! Kalau duduk disini sih, susah untuk mencontek”, pikirku. Terlebih lagi, aku belum belajar kemarin.  Namun tetap saja aku harus menghadapi remedial ini. Ya awalnya aku bisa menghadapi soal-soal itu, namun semakin lama, soal semakin sulit. Aku bingung sekali saat itu. Apa boleh buat, dari pada nilai ku jelek, aku pun mengeluarkan buku catatanku dari kolong meja dan menaruhnya di bawah lembar jawaban ku, agar tidak ketauan kalau aku ingin menyontek. Namun sialnya, Bu Emni selalu jalan kesana-kemari untuk mengawasi muridnya. Aku jadi sulit untuk mencontek.

 Waktu remedial pun hampir habis. Apa lagi teman-temanku sudah pada selesai. Aku semakin panik. Bagian essay sama sekali belum kuiisi. Akhirnya aku nekat, dan cepat-cepat membuka buku untuk mencontek. Dengan perasaan cemas dan was-was aku menyalin jawaban. Tanpa ku sadari, Bu Emni menghampiriku . Cepat-cepat ku sembunyikan contekan yang sedang ku salin. Bu Emni bertanya “kamu lama banget sih ngerjainnya? Udah nomor berapa? Coba ibu liat!

         Bu Emni langsung mengambil lembar jawabanku, dan akhirnya buku contekan itu pun terlihat dengan jelas karena tidak tertutup lembar jawaban. Bu Emni langsung marah dan berkata “Oh, pantesan kamu lama, ternyata kamu lagi nyontek ya? Udah deh, kamu gak usah remedial. Ibu gak suka ya, kalo ada murid Ibu yang berbuat curang kayak gini”. Bu Emni pun merobek-robek lembar jawabanku dan membuangnya di depanku. Seketika aku menangis dan langsung berlari keluar, menuju toilet dekat masjid. Teman-teman yang melihatku tampak heran melihatku mengapa aku menangis. Aku menangis tersedu-sedu di toilet.
 Setelah puas menangis , aku langsung menuju masjid untuk sholat ashar berjama’ah. Seusai sholat, aku berdo’a meminta ampun kepada Allah akibat ulahku tadi. Dan lagi-lagi aku menangis tersedu-sedu. Salah satu temanku langsung bertanya “Nis? Kok nangis? Kenapa?”, aku hanya diam. Lalu temanku yang lain menjawab “tadi dia kan nyontek, eh ketauan, terus lembar jawabannya dirobek sama Bu Emni”
Akhirnya temanku membujukku agar aku tidak menangis “Udah nis, gak usah nangis, ambil hikmahnya aja, ini juga sebagai pelajaran yang berharga kan buat loe”. Setelah lama kemudian tangisan ku pun reda. Aku sangat menyesal atas kejadian itu. Namun, semua itu terlambat. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar